Keadilan

Bisa dipastikan saya bukanlah seorang murid yang nantinya berminat untuk menuju perguruan tinggi negri karena ya memang tingkat kesuksesan tidak sebesar tingkat harapan. Apa yang akan saya bicarakan adalah mengapa kami, murid disalah satu sekolah Bekasi tidak mendapat keadilan dalam memilih perguruan tinggi? Tidak saya tidak akan membahas apa yang anda pikirkan. Saya akan membahas keburukan opsi yang diberikan sekolah saya dalam keputusan hal PTN.

Anda mungkin sudah tahu kalau memasuki PTN sangat sekali dibutuhkan skill dan keahlian dalam bidang mata pelajaran, seluruhnya kalau bias saya bilang. Namun bagaimana jika sekolah anda mengadakan suatu program sekolah yang dinamakan study tour kemudian mengeluarkan opsi bagi yang tidak ikut maka dikemudian hari tidak akan dibantu jika ingin mengikuti ptn, loh kok kenapa bisa? Inilah yang “katanya” terjadi disekolah saya. Sekolah saya mengadakan salah satu program study tour ke beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Yang menjadi pertanyaan saya kali ini adalah mengapa sekolah tidak akan membantu muridnya jika tidak mengikuti program study tour ini? Sekolah sempat bilang jika anda ingin dibantu maka anda harus mengikuti atau setidaknya mendukung program sekolah. Tetapi sebelum kita membahas masalah lebih dalam, ada baiknya jika kita membahas mengapa kita harus mendukung program sekolah. Murid diharuskan mendukung program sekolah agar sekolah nantinya akan memiliki kepercayaan untuk membuat program yang lebih baru lagi ditahun depan dan ini yang menurut saya menjadi poin penting dalam hal baik. Tetapi bagaimana dengan pernyataan dari sekolah saya yang mengatakan bahwa jika tidak ikut study tour ke PTN tidak akan dibantu kemudian hari jika ingin mengikuti SNMPTN atau SBMPTN? Jujur saya, 1 juta 300 ribu rupiah bukanlah jumlah yang sedikit dan terus bagaimana jika ada seorang murid yang tidak mampu? Bagaimana jika ada seorang murid yang sakit dan tidak diizinkan oleh orang tua mereka? Apakah bisa dijadikan excuse dikemudian hari? Sayangnya tidak. Sekolah kami tidak mentoleransi semacam omong kosong seperti itu melainkan hanya memasukkan bualan itu kedalam kategori omong kosong yang pernah mereka dengar.

Saya tidak menyangka ketika saya mendengar rumor dari beberapa anak sekolah bahwa guru yang mendata untuk study tour “suka menahan” kode untuk mengikuti PTN. Mengapa dia menahan? Sepertinya sudah saya jelaskan, karena murid tidak mengikuti study tour dan program sekolah seperti apa yang para guru inginkan. Tetapi hal ini seharusnya tidak di titik beratkan terhadap murid dan alangkah baiknya untuk memberikan sangsi yang lebih rendah. Bagaimana jika seorang anak mampu mengikuti perguruan tinggi tapi tidak dibantu karena ia dulu tidak mengikuti study tour? Sebuah pernyataan yang konyol bukan? Tetapi bukan karena argument ini kami dapat seenaknya tidak mengikuti program sekolah. Program sekolah baik, meskipun sekolah saya berusaha keras untuk meningkatkan program sekolah dalam bidang kreativitas dan ekstrakulikuler yang menurut saya fantastik karena sekolah saya sangat butuh sekali hal ini. Namun pernyataan yang diungkapkan harus wajib mengikuti study tour atau tidak dibantu dikemudian hari adalah pernyataan yang tidak hanya konyol tapi mengancam masa depan murid yang bisa memiliki kesempatan duduk di PTN. Menurut saya memang sangat dibutuhkan arahan ke universitas negri favorit didaerah Yogyakarta agar murid termotivasi dan menjadi ingin memilih universitas tersebut. Tetapi tetap saja, pernyataan tersebut merupakan konsekuensi yang konyol. Seharusnya konsekuensi yang dikenakan adalah tidak ada.

Ini merupakan salah satu contoh program sekolah yang kurang menarik bagi saya, selain konsekuensinya, cara penyampaiannya juga kurang. Saya bukan seorang anggota OSIS maupun peng-kritik program sekolah, yang saya sampaikan hanyalah berdasarkan dari sudut pandang saya terhadap argumen ini. Seharusnya bisa saja study tour ini menjadi sesuatu yang menyenangkan tetapi kebanyakan malah merasa terpaksa. Menurut saya, ini merupakan konsekuensi kami yang dulu disuruh memilih study tour campus Jogja atau Bandung, kebanyakan murid memilih Jogja karena mereka berfikir lebih enak nginep dan perginya jauh tetapi ketika dalam hal pelunasan dan finishing akhir, murid-murid tidak memberikan kabar. Di sisi lain guru sudah menerima permintaan murid untuk pergi ke Yogyakarta dan mengontak universitas negri dengan susah payah. Mungkin inilah salah satu alasan guru memberikan konsekuensi yang konyol.

Argumen ini tidak menitik-beratkan masalah atau menyerang guru dengan kata-kata yang saya tulis. Saya menulis sesuai sudut pandang saya tetapi tetap saja yang memulai hal konyol ini adalah keputusan murid kebanyakan. Tapi saya tidak akan meninggalkan artikel ini tanpa jawaban yang benar . Bagaimanapun kita harus mendapatkan keadilan sebagai murid ataupun guru. Dalam sudut pandang saya, konsekuensi yang diberikan guru adalah konyol dan pilihan yang dipilih para murid adalah buruk. Hal konyol ini juga terjadi pada tahun ajaran kemarin dan bukan hanya pada tahun ajaran ini. Saya tidak memilih keduanya disaat suruh memilih tetapi saya merasa wajib saja untuk mengikuti program sekolah ini. Para guru pastinya merasa capek dan kesal ketika muridnya ditanya mengenai pilihan mereka tetapi malah mengabaikannya. Tetapi konsekuensi yang diberikan dampaknya sangat besar terhadap masa depan murid.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close