Keberadaan Simpatisan PKI

Hey, Folks? Mungkin kalian penasaran bagaimana rumitnya pembahasan yang saat ini lagi panas-panasnya, keberadaan simpatisan PKI. Sepanjang 1 tahun ini kita lagi dilanda krisis Hantu-PKI, dimana semua orang teriak-teriak ‘Ada PKI!’, namun tidak terbukti dimana simpatisan-simpatisan PKI itu dimana. Well, gue awalnya juga gak percaya dengan orang-orang teriak PKI dimana-mana tapi gak ada buktinya. Alesan gua cuman 1 kenapa gue awalnya gak percaya, yaitu karena tingkat keamanan negara kita udah maksimal. Ya, undang-undang yang melarang organisasi sejenis PKI sudah ada dari dulu, dan diperkuat lagi oleh PERPPU Ormas jadi gak ada alasan untuk khawatir tentang keberadaan PKI.

Beberapa hari yang lalu gang perumahan gua tepatnya hari selasa, jam 9 malam ada orang yang teriak-teriak. Awalnya gue kaget, mungkin lagi ada acara pesta ulang tahun, tapi pas gue keluar ternyata ada beberapa warga lagi teriak-teriak karena di TKP terjadi penganiyaan. Kronologisnya begini,

A: Ayahnya B

B: Istrinya C

C: Menantunya A

Jam 9 malem si C nyetel radio kenceng banget sampe bikin tetangga sebelah rumah mereka resah, si A bilang kalo nyetel radio jangan kenceng-kenceng karena cucu (anaknya B dan C) lagi tidur. Kemudian si C gak terima karena ditegur si A, terjadilah cekcok hingga pemukulan ke pelipis kanan si A (FYI, A sudah berusia lanjut). Kejadiannya berlanjut sampe mereka berdua (C dan A) keluar dari rumah, begitu juga sama tetangga-tetangga lainnya. Hal yang bikin warga geger, si C keluar bawa secarik kertas coklat (semacam amplop) dan disitu ada tulisan dan dibawahnya ada lambang PKI, jelas banget palu-aritnya, sambil ngancem kaya ‘Jangan macem-macem sama gua!’. Seketika warga liat, mereka teriak ‘Woy PKI lo ya!’, si C langsung kebirit-birit masuk kedalem rumah terus ngunci dari dalem bersama istrinya, kertasnya ditinggal diluar. Situasi berubah dari penganiyaan ke pendugaan kalo si C ini simpatisan PKI. Gue sampe merinding karena warga komplek gue teriaknya kenceng parah, ‘WOI PKI LO, KELUAR LO’ ‘GAK HARUSNYA LO DI KOMPLEK INI’, dan semacamnya.

Selang waktu berjalan, satu polisi datang. Warga udah gak sabar supaya itu orang ditangkap, tetapi sebagai pihak menengah, polisi mau bermusyawarah dulu. Sebenarnya si C dari dulu udah pengen dilaporin sama si A atas kasus KDRT/Penganiyaan tapi karena gak ada bukti, jadi susah. Setelah itu si polisi coba bicara sama si C dengan ngetok-ngetok pintu, tapi masih gak dijawab juga. Warga sebenarnya udah resah nungguin dan gak sabar simpatisan PKI itu dibawa ke kantor polisi. Dan gua sempet heran, polisinya pergi ninggalin TKP dan warga-warga, pas gua tanya kenapa katanya ‘belum ada visum dek, jadi gak bisa dilakukan penangkapan’, gue langsung bilang ‘apa?’. Gue bingung sama kasus ini, seriously, penganiyaan terjadi didepan mata, bukti pelipis sampe berdarah, saksi banyak tapi si pelaku tetap dibiarin didalam rumah yang terkunci. Kalo di jalan raya ada pembacokan dan pelakunya ketangkep warga, ya masa harus keluar visum dulu supaya bisa diproses masuk ke kantor polisi? apalagi dalam kasus ini pelaku diduga simpatisan PKI.

Hari berlanjut, keesokan harinya gue tanya abang gua karena gua penasaran dan ngeliat penangkapan apa-apa. Abang gue bilang ‘tadi gue pas-pasan sama dia pas didepan komplek, cabut dia naek motor tadi’, apa? gue gak salah denger? kok dia bisa lolos dengan begitu mudahnya? kok bisa? gue masih heran dengan dugaan-dugaan kalo dia emang kebal kena visum, kebal tangkep atau pake jurus belut mungkin. Tapi gue pikir lagi, mungkin ya, mungkin visumnya lagi diproses jadinya pelaku bisa berlalu lalang seenakya.

Sampai dengan post ini dibuat, pelaku masih bebas dan jawabannya mengejutkan teman-teman. Laporannya dicabut! Iya, laporan atas penganiyaan, pendugaan PKI terhadap pelaku dicopot, kenapa? Good question, gue dengan insting penasaran bertanya kepada nyokap yang sangat mahir sekali dalam gosip-menggosip. Jadi, si B nanya ke A, dimana pistol si C, sumpah gua denger kata ini langsung kaget parah, si C ternyata punya pistol (beberapa rumor bilang si C juga punya pedang sejenis katana). Kemudian si A takut anaknya (si B) dan cucunya dibunuh sama si C dann dicabutlah laporan atas kasus-kasus tersebut.

Atas perilaku A terhadap kasus ini, tetangga gue khususnya ibu-ibu langsung mengkritik pedas perlakuan A yang terlalu lembut ke C karena telah melakukan pencabutan laporan. Menurut pemikiran gue sih ya, emang dalam situasi yang taruhannya nyawa, pasti bingung banget milih yang mana, antara ego sendiri atau nyawa orang lain. Dalam kasus ini, Bapak A memilih untuk mencabut laporan atas si C dengan pikiran kalo dicabut mungkin si C gak akan berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.

Menurut perspektif gue, seharusnya si Bapak A gak perlu takut dengan dugaan pemikiran pembunuhan dan ancaman dari si C, karena kalo si C udah ketangkep kan gak ada lagi yang bisa macem-macem. Polisi dibilang lambat iya, tapi kan harus ada semacam ‘research’, tetapi buat apa research kalo buktinya udah ada, saksinya banyak… Ya aneh aja gitu, kalo lo kena pukul deh dijalan terus pelakunya kabur eh ketangkep, pas lu mau proses itu orang ke polsek, masa harus ada proses visum dulu. Ya kaya tadi lah, lo kena bacok dijalan, pelaku ketangkep warga, pas mau diproses harus ada visum dulu yang memakan waktu.

Padahal gue berharap, dengan adanya pengangkapan atas kasus penganiyaan dan pendugaan PKI. Bisa aja PKI dilacak sampe ke akar-akarnya karena satu orang udah ke-gep basah.

Advertisements

Tugas Sekolah

Beberapa hari yang lalu gue nulis tentang pembanding kelompok dan ternyata salah dan udah gua share siapa tau bsia jadi manfaat. Tapi gue bikin pembanding kelompok lagi tentang satu organisasi yaitu Perhimpunan Indonesia. Review pembanding kelompok ini murni bahasan dari gue sendiri jadi bakal gue share hari rabu, karena hari selasa nya gue maju presentasi. Semoga jadi manfaat.

Lanjutan Pembanding Kelompok

Sangat asyik sekali bukan membahas review dan mengkritik hasil review? Tentu karena itulah kemauan guru kami. Persaingan adalah suatu hal yang wajar dan setiap manusia mendapatkan persaingan dikehidupan mereka. Persaingan ini bisa berupa dalam hal pelajaran, akademis, kemampuan, dan masih banyak lagi untuk disebutkan. Tujuan dari persaingan dan pengkritikan ini adalah membandingkan kelompok kami dengan kelompok sebelah. Kami ditugaskan harus bisa membuat kelompok kami terlihat lebih superior dan terkesan lebih menarik untuk dibahas maka dari itu dibuatlah pengkritikan massal ini. Paragraf selanjutnya akan membahas Perhimpunan Indonesia. Continue reading “Lanjutan Pembanding Kelompok”

Pembanding Kelompok

Jadi kemarin gue baru aja pengen nyelesain tulisan pembanding tapi kata temen gue itu salah yaa jadi daripada dibuang… mending dishare disini aja, mungkin bermanfaat.

Setelah kesempatan kedua yang diberikan oleh guru kami akibat kecerobohan kami telat datang untuk mempresentasikan hasil kerja kami selama beberapa minggu terakhir, namun hal ini, kesempatan kedua ini akan kami manfaatkan sebaik mungkin agar tidak menjadi suatu kekecewaan yang diperbuat oleh kami lagi. Namun usaha kami akan kami maksimalkan semaksimal mungkin untuk memenuhi dan mengejar ketinggalan nilai. Metode kami ini sebagai permintaan maaf dan terima kasih untuk pemberian kesempatan kedua ini yaitu dengan mengkritik atau membandingkan organisasi-organisasi yang direview oleh para murid dengan organisasi yang kami review yaitu Budi Utomo dan secara teknis karena ini Budi Utomo adalah materi pembelajaran kelompok kami maka kami akan membuat organisasi yang membawa kelompok kami ini menjadi superior diantara kelompok-kelompok lainnya, dengan begitu pembandingan antara organisasi yang sudah kami review terasa puas dan lega. Pembandingan ini bukanlah pembandingan yang mudah karena disebabkan oleh berbagai macam faktor dan kami akan selalu menggunakan akal sehat dan logika sebagaimana kami mengkritik apa yang murid lain tulis dan review dan ini bukanlah tugas yang singkat bisa dikerjakan dalam sehari semalam tetapi akan butuh waktu kurang lebih seminggu untuk menuntaskan pembandingan ini. Kami tidak menggunakan metode satu kertas satu organisasi tetapi sebanyak banyaknya yang bisa kami peras dari organisasi tersebut akan kami tulis dibawah paragraf ini juga dan akan terlihat banyak sekali halaman karena ini bukanlah satu organisasi saja melainkan ganda atau lebih. Namun kami ingin memperjelas agar tidak terjadi kesalahpahaman bahwa dibawah paragraf kami ini akan kami tulis kritikan, perbandingan dan lain lain dan kami tidak hanya menggunakan satu sumber data tetapi kami mengambil sumber data dari Internet, tetapi harus kami lebih perjelas lagi bahwa data yang kami ambil dari Internet merupakan data valid atau data yang terdukung keberadaannya berarti bukan sembarang data yang kami peroleh untuk membandingkan semua kelompok ini. Pada akhirnya kami harus meminta maaf juga kepada teman-teman kami karena review mereka akan kami kritik keberadaannya dan ini merupakan salah satu syarat persaingan tugas kelompok yang diberikan guru kami. Persaingan merupakan hal yang sangat menyenangkan bukan?

Baiklah kita mulai memasuki tahap pengkritikan data review teman-teman kami, pengkritikan ini tidak hanya berbasis dan memikirkan hanya dari salah satu pihak saja namun dari kedua belah pihak. Kami akan menyatukan pendapat dari teman-teman kami dan kami akan mencoba mengoreksi dan memberikan hipotesis untuk memberikan jawaban atas keberadaan pendapat teman kami. Tetapi tetap, pembandingan ini ditujukan untuk membuat kelompok kami superior terhadap kelompok yang lain maka dari itu kami akan mencoba sebisa mungkin agar kami dan kelompok teman kami mendapatkan hasil yang memuaskan dari pembandingan massal ini. Untuk memulainya kami memiliki 2 kelompok yang sudah mengirimkan datanya kepada kami yaitu Indische Partij dan Perhimpunan Indonesia dan akan kami mulai dari Indische Partij terlebih dahulu karena menurut kami, organisasi yang hidup sementara ini dapat dijadikan bahan pembanding yang singkat jelas dan padat. Setelah itu disusul oleh Perhimpunan Indonesia dan kelompok kelompok lainnya.

Mengingat bahwa kelompok kami wajib membandingkan kelompok lain maka dari itu kami akan mempelajari materi kelompok lain. Indische Partij contohnya yang akan menjadi bahasan diparagraf ini, organisasi yang sangat cepat masa hidupnya dan didirikan oleh tiga serangkai yang membuat kami bertanya-tanya siapa pembuat atau pendiri dibalik Indische Partij ini dan apa motifnya bagi kemerdekaan Indonesia? Setiap organisasi penting diIndonesia memiliki motif tersendirinya untuk memajukan bangsa Indonesia ini dan yang paling menarik untuk dibahas adalah cara pelaksanaan organisasi-organisasi ini dan inilah yang menjadi suatu hal untuk membandingkan kelompok kami yaitu Budi Utomo dan Indische Partij. Dimulai dengan membaca kesimpulan review kelompok Indische Partij ini sepertinya kurang lebih mirip dengan kesimpulan review namun harus kami hargai bahwa membuat kesimpulan merupakan salah satu pekerjaan sulit karena kesimpulan itu adalah kunci suksesnya sebuah review. Pada bagian akhir review, pendapat yang dikeluarkan oleh kelompok ini bertuliskan “Kami akui jika organisasi ini bertahan lama, maka akan banyak perubahan yang terjadi sekarang.”, membuat kami bertanya apa dasar pendapat yang baru saja mereka keluarkan? Organisasi ini ingin menyetarakan agar semua ras di Hindia-Belanda mendapatkan kesetaraan berarti organisasi ini mengincar prinsip multikultural. Tentu saja organisasi ini berani berpolitik karena tujuan mereka satu dan sama dengan organisasi lainnya yaitu membuat bangsa Indonesia merdeka. Tetapi sayangnya cara mereka bisa disebut terlalu buru-buru dan bisa dipastikan sesuatu yang buru-buru atau memakan waktu cepat itu namanya revolusi, bukan begitu? Kami akui jika para pendirinya adalah penyebab rasa patriotisme di bangsa ini tetapi yang menjadi pertanyaan di benak kami mengapa sepertinya organisasi ini terburu buru dalam mem-propaganda kan kemenangan partai mereka ini? Jawab yang hanya kami dapat itu adalah cara mereka melakukan organisasi ini yaitu tergesa-gesa dalam kemerdekaan Indonesia sehingga mereka menciptakan revolusi yang hanya setengah-setengah namun tidak berefek untuk jangka panjang dan hal ini yang membuat organisasi lainnya menjadi waspada agar untuk tidak memaksakan mimpi organisasi terlalu cepat. Tentu saja organisasi ini tidak dapat bertahan lama karena sikap yang dikeluarkan Ki  Hadjar Dewantara dengan membuat buku Als ik eens Nederlander was (Seandainya Saya seorang Belanda), sikap ini menunjukkan rasa revolusioner yang sakit hati atas pemerintah belanda. Tentu semua organisasi merasa tersakiti hati mereka karena bangsa tersebut diinjak dan ditindas oleh penjajah namun dilubuk hati pemikiran organisasi seperti Budi Utomo selalu ada perasaan untuk memerdekakan bangsa ini. Organisasi kelompok kami merupakan salah satu contoh baik untuk menghindari penumpasan atau pembantaian organisasi-organisasi lainnya oleh Belanda karena organisasi kami bersifat moderat, kooperatif dan tidak mengeluarkan perhatian yang mengancam pemerintahan kolonial belanda sehingga organisasi Budi Utomo dapat bertahan lebih lama daripada organisasi ini dan kami sangat menghargai apa yang sudah diperbuat oleh organisasi Indische Partij ini, membangkitkan rasa patriotisme dan nasionalisme. Kami tidak bermaksud untuk berkata bahwa apa yang dilakukan organisasi Indische Partij adalah sebuah kesalahan namun kami bermaksud untuk berkata bahwa cara yang dilakukan organisasi ini agak sedikit salah sehingga menyebabkan organisasi ini harus berlutut dihadapan Belanda dan anggotanya berpindah ke organisasi Sarekat Islam yang berujung pada akhirnya kami harus berkata bahwa organisasi ini benar jika bertahan lama, maka akan banyak perubahan yang terjadi namun harus diingat kembali bahwa faktor penyebab organisasi ini tumbang bukanlah karena Tiga Serangkai organisasi ini ditangkap tetapi karena adanya persaingan dengan organisasi lain sehingga organisasi ini dalam waktu singkat menghilang pengaruhnya dimasyarakat dan hal ini dibuktikan dengan besarnya pengaruh Sarekat Islam pada masa itu, jadi bisa diperjelas bahwa organisasi ini tidak akan bisa hidup lama, meskipun bisa hidup lama, ide organisasi Indische Partij ini untuk bangsa Indonesia akan tertelan dan didekam oleh organisasi lainnya yang lebih superior dibidang yang sama dan lebih mendapatkan pengaruh bagi masyarakat maka argumen yang dikeluarkan organisasi ini tidak valid mengingat keberadaan Sarekat Islam yang menjadi pengaruh besar dan organisasi ini kehilangan atau kalah jumlah anggota dan pendukungnya dari organisasi lain. Tentu organisasi ini berperan dalam kemerdekaan bangsa Indonesia tetapi hanya anggota “bekas” Indische Partij yang membawa ide dan pemikiran patriotisme dan disisipkan kedalam induk organisasi mereka yang baru sehingga ide patriotisme dari para individu masih terdengar.

 

 

 

 

Kemalingan

Jadi jam 2 pagi gua tidur dengan pintu belakang terbuka, pintu ini kebuka supaya kucing yang dirumah gua eeknya gak didalem rumah. Pintu belakang ini mengarah ke atas rumah gua dan ternyata, maling ini manjat lewat gedung sekretariat masjid, ampun deh. Singkat cerita jam 2 gua tidur jam setengah 3 dia beraksi dan jam 3 nyokap gua bangun dan udah ngeliat barang barang dimama mana. Awalnya nyokap gua nyalahin gua sama abang gua karena naro anduk dibawah pintu terus sampe ngebiarin dompet terbuka.

Maling keluar masuk lewat belakang tapi maling ini ninggalin jejak yang kurang manusiawi… Maling ini eek di wc belakang… Yaampun sempet sempetnya gitu eek dirumah gua, udah malingin barang gua

Keadilan

Bisa dipastikan saya bukanlah seorang murid yang nantinya berminat untuk menuju perguruan tinggi negri karena ya memang tingkat kesuksesan tidak sebesar tingkat harapan. Apa yang akan saya bicarakan adalah mengapa kami, murid disalah satu sekolah Bekasi tidak mendapat keadilan dalam memilih perguruan tinggi? Tidak saya tidak akan membahas apa yang anda pikirkan. Saya akan membahas keburukan opsi yang diberikan sekolah saya dalam keputusan hal PTN.

Anda mungkin sudah tahu kalau memasuki PTN sangat sekali dibutuhkan skill dan keahlian dalam bidang mata pelajaran, seluruhnya kalau bias saya bilang. Namun bagaimana jika sekolah anda mengadakan suatu program sekolah yang dinamakan study tour kemudian mengeluarkan opsi bagi yang tidak ikut maka dikemudian hari tidak akan dibantu jika ingin mengikuti ptn, loh kok kenapa bisa? Inilah yang “katanya” terjadi disekolah saya. Continue reading “Keadilan”

Tahap 4

Memang sangat terlihat jelas bahwa saya mengutip dari buku Boedi Oetomo itu sendiri tetapi, saya tidak mengutip secara keseluruhan melainkan hanyalah poin penting-penting saja bagi saya yang selanjutnya akan saya kembangkan menjadi sebuah kalimat pribadi dari saya sendiri. Tahap ke 4 ini berdasarkan dari halaman sekian sampai dengan sekian,

Masyarakat Jawa yang mengadopsi sistem Kasta

Pada hakikatnya manusia, yang paling tinggi ialah penguasa. Memang tentu itu benar dan selalu saja diklasifikasikan kedalam level-level tertentu, tak ayal jika kita bisa melihat bahwa ada struktur organisasi yang agak mirip seperti kasta pada ajaran agama Hindu tetapi struktur organisasi memang jelas untuk tujuan yang berbeda seperti mengatur jalannya organisasi, mengatur dan merancang. Tetapi yang kita bicarakan ini adalah sesuatu yang luas, sesuatu yang menjangkau luas seperti kasta pada masyarakat Jawa. Menurut Wahidin Soedirohoesoedo, masyarakat Jawa sudah melebur ke sistem kasta hindu. Pendapat ini dikemukakan dengan dorongan bukti yang nyata, contoh priyayi menjadi kasta teratas dan pribumi rakyat bawah menjadi kasta sudra. Hal ini sangat sekali memperihatinkan sekali bagi masyarakat Jawa pada masanya itu, adapula kerugian dan keuntungan yang didapat jika priyayi menjadi kasta teratas. Soedierohoesoedo mengira bahwa ia mampu meningkatkan pendidikan bagi kaum priyayi dan memajukan pendidikan menggunakan cara barat, mengapa demikian? Alasan utamanya jika ia memajukan pendidikan dengan cara barat, maka kaum Elite Jawa yang sudah berpendidikan baik akan mendidik rakyat yang terbawah atau rakyat bawah mengikuti jejak pendidikan Elite Jawa, cara ini bisa dibilang cukup mudah diterima karena seperti yang saya bilang pada tahap 3 artikel sebelumnya. Memiliki pendidikan barat dapat meningkatkan derajat kecerdasan para pribumi secara menyeluruh dan bukan hanya dikalangan priyayi. Namun sayangnya pendapat ini ditentang oleh Mas Mangoenoesodo dengan alasan ia takut bahwa jika menggunakan pendidikan barat makan budaya barat juga akan masuk ke bangsa kita ini dan akan menyulitkan rakyat pribumi dimasa mendatang. Ketakutan dan rasa pesimis ini didorong oleh faktor budaya pribumi yaitu budaya timur yang sangat santun. Kemudian pendapat Mas Mangoenoesodo dan Wahidin Soedirohoesoedo dapat dibilang melebur menjadi satu dan muncul pendapat dokter Radjiman Wedyodiningrat. Ia berpendapat bahwa, orang Jawa harus memiliki pendidikan Barat dan hidup sebagai orang Timur agar nanti tidak menjadi proletariat yang terpelajar. Pendapat yang dikemukakan oleh dokter yang gemar menganjurkan keseimbangan antara budaya Barat dan budaya Timur ini tidak sembarang menaruh pendapat. Mengapa kita harus mendapat pendidikan Barat dan hidup sebagai orang Timur? Seperti halnya kita hidup pada masa kini, kita bisa menjangkau luas berbagai informasi akibat adanya globalisasi, kita bisa memahami dan membaca buku sebebasnya karena kita paham bahasa lain sebab kita diajarkan oleh orang Barat tetapi kita tetap hidup sebagai orang Timur. Alasan dokter Radjiman ingin bangsa ini seperti itu agar nantinya ketika pribumi atau elite Jawa memiliki pendidikan Barat, ia tak ingin kesopanan dan adat istiadat Timur terganggu gugat. Melihat buruknya budaya Barat seperti menjajah. Namun itu semua kembali ke spekulasi masing masing terhadap budaya menurut daerah masing masing.

Hampir menjadi organisasi politik

Salah satu fakta yang tak bisa dihindari adalah perbedaan pendapat. Setiap organisasi pasti dan wajib memiliki perbedaan pendapat, hal tersebut bersifat positif tentunya dan harus disetujui oleh seluruh anggota organisasi sebelum slaah satu pendapat dipilih menjadi tujuan. Seperti halnya Boedi Oetomo, setelah beberapa pendapat di kongres pertama dikemukakan, hampir saja menjadi organisasi politik. Hal ini diutarakan oleh Tjipto Mangoenkoesoemo, pemuda radikal yang berpendapat bahwa pendidikan harus secara menyeluruh dari bawah (rakyat pribumi) dan bukan dari atas (priyayi) namun tetap saja kubu Wahidin lebih diterima karena tujuan utama Tjipto adalah ingin mengubah organisasi ini menjadi politik.

Persaingan Boedi Oetomo dengan Organisasi Priyayi

Sebelumnya, organisasi priyayi terbentuk karena sakit hati. Mereka merasa terlecehkan oleh Boedi Oetomo. Mereka merasa kehormatannya dipertaruhkan oleh Boedi Oetomo sehingga mereka membentuk organisasi bupati se-jawa dan madura. Kemudia para pemimpin Boedi Oetomo merasa jengkel karena perbuatan organisasi para priyayi ini mencuri perhatian dan mempengaruhi masyarakat Jawa. Karena pada dasarnya organisasi priyayi ini ditujukan karena mereka sakit hati merasa dilecehkan dan seharusnya priyayi yang memimpin makan organisasi ini bertujuan sosial. Tetapi haruskah para priyayi membuat organisasi seperti itu dan pantas kah? Bisa disebut bahwa Boedi Oetomo memerangi orang orang yang malas, bersantai-santai dan berleha-leha seolah tidak terjadi apa apa. Tetapi tujuan Boedi Oetomo lebih mulia dibanding nama organisasi priyayi pada tahun 1913, “Tujuan Mulia”. Boedi Oetomo memang lebih mementingkan kalayang priyayi karena mereka berfikir bahwa dari situlah perubahan dapat dimulai namun para priyayi tinggi yang menganggap priyayi rendahan Boedi Oetomo tidak pantas menjadi pemimpin. Lantas kenapa? Karena sebuah kehormatan bagi mereka adalah harus, kehormatan yang harus didapat. Bagaimana bisa seorang yang tinggi, memiliki kehormatan tetapi tidak dapat mengatur rakyat dengan baik? Priyayi, apakah mereka pemimpin asli masyarakat Jawa? Jika mereka pemimpin asli, mengapa tidak bertindak untuk memperbaiki dan bersatu untuk membuat rakyat bawah menjadi lebih terdidik dan berevolusi. Hal ini hanya sekedar ke-egoisan para priyayi yang sangat menyegani siapapun yang menyentuh kehormatan mereka. Mereka tak ingin berbagi kekuasaan, begitu juga dengan kehormatan. Mereka tidak ingin ada orang lain yang rendahan dapat memimpin rakyat untuk berubah, karena menurut para priyayi tinggi ini sudah cukup mereka saja yang mengurus.